Internasional

Yerussalem Bukan Sekedar Urusan Agama

on

Jambur.com/Artikel Opini – Berkaitan dengan kontroversi pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang menyatakan perpindahan kedubes Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerussalem dan sekaligus menyatakan pengakuannya terhadap Yerussalem sebagai ibu kota Israel banyak mendapatkan kecaman dari banyak masyarakat dunia, termasuk masyarakat Indonesia yang notabenenya adalah negara dengan masyarakat muslim terbesar di dunia.

Pertentangan ini bukan hanya di suarakan oleh organisasi yang berhaluan agamais maupun Islamis di indonesia, namun juga dari organisasi nasionalis dan bahkan yang berhaluan ideologi Bung Karno yaitu Marhaenisme seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI).

Dalam hal ini Badan Kerja Cabang GmnI kota Medan menyatakan keritik kerasnya kepada Amerika Serikat , yang di nilai banyak mendalangi konflik-konflik dan penjajahan di atas dunia ini dengan kekuatan kapital ekonominya termasuk membuat suatu pernyataan yang bertentangan dengan konsep perdamaian dunia di mana terlihat jelas bahwa Amerika Serikat hadir bukan sebagai pemberi solusi, namun sebagai akar memanasnya kembali koflik yang mengancam perdamaian dunia.

“Tak heran AS menyatakan seperti itu, karena dalam sejarahnya memang kebijakan politik luar negeri AS selalu mendukung tindak kolonialisme. Hal ini jelas karena memang AS adalah biang dari segala exploitation de l‘homme par l‘homme’ dan ‘exploitation de nation par nation di era modern ini” jelas Yersa Umar Hasibuan Ketua Bakercab GmnI kota Medan dalam diskusi yang dilakukan GmnI Kota Medan.

Negara kapitalis seperti Amerika Serikat jelas akan mendukung Isreal yang terang dalam sejarahnya merupakan negara penjajah dan penjahat perang.

Satu hal yang mungkin tak luput dari ingatan masyarakat dunia bahwa negara penjajah ini dengan semerta-merta banyak melakukan pelanggaran di tanah penjajahannya di Palestina.

Bakercab GmnI Kota Medan bukan hanya sekedar konflik agama yang sentimentnya hanya menyentuh kaum muslim dunia, namun masyarakat dunia yang mengaku dirinya sebagai anti-kolonialisme atau anti-imprialisme seperti GmnI yang berhaluan Marhaenisme haruslah juga menjadi garda terdepan sebagai penyuara anti penindasan dan pembela kaum tertindas.

“Marhaenis dan juga kaum nasionalis-humanis harus lah mengganggap konflik ini bukan sekedar konflik agama, yang hanya bisa menyentuh kaum agamais , namun harus di pandang sebagai modus kapitalis , yang mana masih ada negara di atas dunia ini yang jelas-jelas di depan mata kita melakukan penjajahan dan melakukan penindasan manusia atas manusia. Jadi jelaslah GmnI hari ini menentang dan akan selalu menentang segala tindak kesewenang-wenangan negara kapitalis, imprialis, dan penjajah seperti AS dan Israel “ urai Yersa.

Untuk itu dalam pernyataan akhirnya, Bakercab GmnI kota Medan mengajak seluruh element masyarakat indonesia sebagai negara Pancasila yang anti penindasan demi terwujudnya perdamaian dunia yang berdasarkan keadilan dan kemakmuran untuk mendukung pemerintah indonesia menjadi garda terdepan sebagai solusi perdamaian dunia yang mulai di kacaukan oleh negara kapitalis seperti Amerika Serikat.

Yersa Umar Namartua Hasibuan.
Ketua Bakercab GmnI Kota Medan.

About Putra Tarigan

Penulis Lepas Rubrik Politik, Hukum dan Hiburan

Recommended for you