Inspirasi

Fenomena Degradasi Jiwa Kritis dan Berorganisasi Mahasiswa

on

Jambur.com/Artikel Opini – Banyak keluhan yang saya dengar dari teman-teman yang berkecimpung dalam organisasi atau lembaga kemahasiswaan.

Secara umumnya, teman-teman yang bergiat dalam organisasi kemahasiswaan tersebut mengeluh tentang persoalan ‘kader’. Beberapa diantara mereka ada yang mengeluhkan tentang persoalan kuantitas kader karena terlihat secara kasat mata, jumlah mahasiswa yang berminat berorganisasi hampir setiap tahun menurun drastis.

Di samping itu persoalan kuantitas ada juga yang menyoalkan tentang kualitas mahasiswa yang menjadi kader organisasi dimana mahasiswa sekarang dapat disimpulkan sudah mulai tak kritis lagi yang cenderung apatis. Parahnya sudah tidak kritis tak berani pula untuk menyuarakan apa yang menjadi aspirasi maupun menyampaikan gagasan-gagasan ide yang sifatnya membangun.

Sejatinya, terdapat perbedaan yang jelas antara dunia kampus/perkuliahan dengan lingkungan sekolah dimana kampus memberikan ruang kebebasan yang lebih kepada mahasiswa untuk mengembangkan minat serta kreatifitasnya.

Lembaga/organisasi kemahasiswaan seyogyanya adalah sebagai salah satu wadah pengembangan bakat minat adalah warna tersendiri di kampus. Kehadiran organisasi tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa di tengah menumpuknya tugas-tugas kuliah.

Namun, jika mencermati minat berlembaga/organisasi mahasiswa saat ini yang kian menurun patutlah kita merasa prihatin. Melalui beberapa pengamatan yang dilakukan, saya mendapati beberapa faktor mengapa mahasiswa tak lagi tertarik berorganisasi.

Pertama, pola hidup hedon (dunia hura-hura) yang secara perlahan sudah merasuki kaum muda-mudi tak terkecuali mahasiswa. Mahasiswa kini tak bisa lagi secara universal disebut kaum intelektual atau pembawa perubahan. Hedonisme telah merubah banyak di antara mereka dari kutu buku menjadi pencinta club malam (diskotik), narkoba atau miras.

Pergeseran perilaku ini tak bisa dilepaskan dari pengaruh arus globalisasi sehingga cenderung sangat sulit dibendung. Organisasi seharusnya mampu memberikan kesibukan kepada mereka sehingga tak ada waktu untuk terjebak pada perilaku menyimpang ini.

Gelarlah kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial seperti baksos atau kegiatan yang kompetitif seperti lomba menulis dan sebagainya. Buatlah kegiatan yang tak diperoleh di bangku kuliah.

Kedua, munculnya tanggapan miris di kalangan mahasiswa sendiri bahwa organisasi menghambat prestasi akademi bahkan membuat mahasiswa lama tamat. Namun, patutu juga diketahui bila sejumlah organisasi kemahasiswaan kini telah menetapkan indeks prestasi akademik tertentu atau jumlah SKS yang harus dilulusi sebagai prasyarat menjadi pengurus organisasi kemahasisswaan. Hal seperti ini yang dirasa perlu untuk dibangun guna membentuk si mahasiswa itu sendiri agar mampu bertanggung jawab.

Ketiga, ada persepsi publik yang terbangun saat ini bahwa pengurus lembaga kemahasiswaan hanya memiliki bakat demonstrasi. Image ini muncul dari sejumlah pemberitaan media massa bahwa umumnya aksi demonstrasi menyusahkan masyarakat misalnya pemblokiran jalan dan sebagainya. Apalagi jika demonstrasi yang digelar berakhir bentrok. Hal ini membuat banyak orang tua melarang anaknya berorganisasi. Padahal, jika dipahami demonstrasi adalah ekspresi ketidakpuasan pihak tertentu terhadap sebuah kebijakan, jadi demonstrasi dapat dilakukan oleh setiap warga Negara, bukan hanya mahasiswa.

Di sisi lain, sungguh disayangkan bahwa tak jarang gerakan mahasiswa tak mengundang simpati melainkan antipasti dari masyarakat lantaran gerakan mereka tak independen lagi. Beberapa aksi yang digelar cenderung berbau politis alias ditunggangi oleh pihak yang punya kepentingan. Banyak yang ikut demonstrasi tak menguasai wacana sehingga kesannya ikut-ikutan.

Jadi tak perlu heran manakala mahasiswa sekarang lebih memilih apatis ketimbang jadi organisatoris sebab mereka memandang organisasi tak lagi menjadi alat kebanggaan. Bahkan organisasi tak memberikan jaminan kehidupan yang layak di hari tua.

Oleh : Ridwan Ritonga
Sekretaris BAKERCAB GmnI Labuhan batu Raya

About Putra Tarigan

Penulis Lepas Rubrik Politik, Hukum dan Hiburan

Recommended for you