Berita

Tongkat Soekarno Batal Diberikan Kepada Presiden Jokowi

on

Jambur.com,Kaimana- Tongkat Soekarno yang direncanakan akan diserahkan oleh masyarakat Kaimana kepada Presiden Jokowi,batal diserahkan. Tongkat yang  terbuat dari kayu timomor, kayu istimewa dari gunung batu di Kaimana yang pernah digunakan oleh Presiden Soekarno sebagai tongkat komandonya.

“Tongkat ini adalah bentuk kecintaan kami kepada pemimpin. Tetapi batal diserahkan karena Presiden batal hadir membuka Pesparawi,”  ucap Bupati Kaimana Matias Mairuma kepada SP di sela-sela persiapan penutupan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) XII se-Tanah Papua di Kaimana, Papua Barat, Senin,18 September 2017.

Ia mengatakan, tongkat itu akan diberikan kepada Jokowi untuk merefleksikan kembali bagaimana sejarah bangsa Indonesia.
Matias menjelaskan, tongkat itu dinamakan Tongkat Soekarno karena bahan baku yang dipakai, sama dengan yang digunakan Soekarno untuk tongkat komandonya.

Ada cerita menarik mengapa tongkat tersebut dibuat dari kayu timomor yang juga digunakan Soekarno sebagai bahan baku tongkat komandonya itu. Kisah leluhur yang disampaikan orang tua yang berdiam di sepanjang pantai di wilayah Mairasi dan Pulau Namatota mengisahkan tentang pohon timomor yang digunakan sebagai obat sampai saat ini.

Sewaktu Soekarno ditahan Belanda di Boven Digoel, Papua, dia bertemu seorang pria tua asal Kaimana yang sama-sama dalam masa penahanan. Ketika waktu itu Soekarno jatuh sakit, pria tua itu lalu memberi obat irisan dari kayu timomor yang direndam dengan air panas.

Bagi orang Kaimana, kayu timomor memang ampuh sebagai obat. Jadi tidak heran ketika saat itu banyak orang Kaimana saat berpergian membawa kayu tersebut, termasuk orang tua yang bertemu dengan Soekarno itu.

Ketika sembuh, Soekarno mengaku sangat terkesan. Kayu itu ia bawa dan dijadikan tongkat dengan ukiran kepala burung garuda.

“Kayu timomor sangat spesial. Pohonnya tumbuh di atas batu cadas, proses kehidupan pohon ini sulit, makanya kayunya memberikan hasil yang luar biasa, berkhasiat untuk obat,” ujar Matias.

Matias mengatakan, ia telah menyiapkan tongkat yang serupa agar diserahkan kepada Presiden Jokowi jika hadir di acara pembukaan Pesparawi. Di pucuk tongkat itu, terukir kepala garuda dan juga empat bintang. Ukiran tersebut disepuh emas 10 gram. Namun, tongkat itu batal diberikan karena saat acara pembukaan 15 September 2017 kemarin, Jokowi tidak hadir.

Padahal, dengan diberikannya tongkat itu, Presiden  tidak perlu ragu lagi dengan Papua. Apalagi, tongkat tersebut diberikan saat puluhan ribu peserta dan pendamping Pesparawi dari berbagai kabupaten/kota dari dua provinsi di Papua dan Papua Barat berkumpul di Kaimana. Belum lagi, seluruh bupati dan walikota juga ikut hadir di acara akbar empat tahunan itu.

Karena batal diserahkan kepada Presiden Jokowi, tongkat itu akan disimpan di Kantor Pemda Kaimana.
Matias menambahkan, Panitia Pesparawi XII se-Tanah Papua juga akan membuat tongkat serupa agar nantinya diserahkan kepada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Ia menilai, Panglima TNI telah berjasa dan banyak membantu terselenggaranya Pesparawi XII dengan mengerahkan kapal dan pesawat herkules TNI untuk mengangkut puluhan ribu peserta dan pendamping Pesparawi dari pegunungan-pegunungan dan pesisir-pesisir di seluruh pelosok Papua di 42 kabupaten/kota.

Sementara, tokoh agama Papua yang juga Direktur Spiritual St Yohanes Paulus II Papua Pastor John Bunay Pr mengatakan, rencana pemberian tongkat itu merupakan bahasa simbol kecintaan rakyat Papua. Tentu kisah itu akan ditularkan turun-temurun ke anak cucu. Namun, momen emas tersebut kurang diindahkan Jokowi.
“Kalaupun diberi di waktu lain, jelas akan berbeda. Karena saat acara pembukaan Pesparawi itulah, seluruh energi rakyat Papua ada di sana. Presiden telah gagal merebut hati orang Papua. Masyarakat Papua kecewa,” ujar John.

About Yogi Brery

Membaca dan menulis adalah jalan bagi orang yang ingin belajar dan mengetahui banyak hal.
AYO MEMBACA!!!!!!!