Berita

Perjalanan Hidup Prof. Soemantri Martosowignjo (Bagian-2)

on

Jambur.com/Berita Sosial –  Walaupun Prof. Soemantri sangat berpengalaman di bidang akademisi dan lembaga negara, siapa yang dapa menyangka jika semasa hidup almarhum justru sempat disepelekan oleh teman-temannya ketika mengambil program HTN sebagai spesialisasinya. 
“Ngapain elu ambil Hukum Tata Negara di negara yang nggak ada tata-nya begini? “ucap Soemantri, menirukan cibiran teman-temannya.
 
Namun, cibiran dan hinaan seperti itu tak menyurutkan langkah Soemantri, justru itu membuatnya mantap memilih karir di jalur hukum tata negara. Ia berkeyakinan, sarjana hukum yang menguasai bidang hukum tata negara akan tetap bisa mengaktualisasikan diri. 

“Karena tiap negara punya hukum tata negaranya masing-masing.”

Rupanya, ucapan Soemantri bukan isapan jempol semata. Selepas bertugas di Konstituante, ia diajak oleh Utrecht, mantan anggota Konstituante berdarah Belanda-Ambon- menjadi asisten dosen di Universitas Padjadjaran. 

“Waktu itu saya baru sarjana muda, belum lulus sarjana. Tapi sudah berkeluarga. Akhirnya status kepegawaian saya diproses dan saya dibantu untuk mendapatkan gaji yang layak. Setelah itu saya menjadi asisten Pak Usep Ranawidjaja.”
 
Ketika sudah mengajar di Universita Padjajaran, kebimbangan sempat menggelayuti Soemantri. Tak bisa dipungkiri, urusan kesejahteraan keuangan saat itu hampir menggoyahkan tekad Sri sebagai seorang akademisi. 

“Akhirnya saya minta tolong tiga hal ke Unpad. Pertama, dsediakan rumah. Kedua diberi kesempatan mencari penghasilan tambahan. Ketiga, kalau ada kesempatan saya minta dikirimkan tugas belajar keluar negeri. Eh, dikabulkan semua permintaan itu. Nah rumah yang ditempati ini adalah bekas rumah pak Mochtar Kusumaatmadja.”
 
Soemantri masih ingat benar bagaimana awal mulanya hingga dia menyukai hukum tata negara (HTN). Semua berawal ketika Soemantri sedang mengikuti mata kuliah ilmu negara. Kala itu ia menghadapi ujian secara lisan. 

Dari begitu banyaknya mahasiswa di sana, hanya dirinyalah yang dapat menjawab pertanyaan. Keberhasilan Soemantri menjawab pertanyaan teraebut disambut dengan ekspresi kegembiraan sang dosen. 

“Sejak itu saya suka ilmu negara dan HTN. Tapi saya lupa waktu itu pertanyaannya tentang apa,” terang Soemantri.
 
Program Kekhususan Hukum Tata Negara di hampir semua fakultas hukum memang sepi peminatnya, berbeda dengan jurusan lain semisal hukum ekonomi, hukum internasional, atau hukum pidana.
 “Dari dulu seperti itu. Program HTN di tingkat S-1 (sarjana) sangat sedikit peminatnya.
 
Tapi anehnya di tingkat Pascasarjana, baik S-2 maupun S-3, peminatnya banyak sekali”urainya.
 
Di pascasarjana inilah, Sri mengenalkan sebuah mata kuliah Teori dan Hukum Konstitusi yang akhirnya dipakai di seluruh Indonesia.
 
Mata kuliah ini memang hasil buah pemikiran Soemantri ketika belajar di negeri Belanda. Di sana ia memperbandingan konstitusi di negara-negara lain. 

“Akhirnya, itu yang mendorong saya untuk melahirkan teori dan hukum konstitusi,” tuturnya.
Sang penulis buku ‘Sistem-Sistem Pemerintahan Negara-Negara ASEAN ini kini telah berpulang menghadap sang Khalik. 

About Putra Tarigan

Penulis Lepas Rubrik Politik, Hukum dan Hiburan

Recommended for you